Diam

Tak jauh dari tempat ku berdiam seorang diri, terlihat jelas dari ekor mataku bahwa kamu masih terjaga memperhatikanku. Entah, kamu yang terlalu enggan untuk menyapaku, atau aku yang terlalu mementingkan ego bahwa tak akan ku mulai percakapan sebelum kau yang memulai. Setiap kali bola mata bertemu, masing-masing dari kita selalu gelagapan untuk memandang arah lain. Mengutuk diri sendiri dengan kediaman mungkin jalan yang sudah kita pilih. Mempermasalahkan persoalan yang tak pernah kita tahu tepatnya, kesalahanku atau kesalahanmu itu seakan tak ada jalan keluar untuk menyelesaikannya. Kita duduk di tempat dan waktu yang sama, meja panjang menjadi penyekat agar kita tak berdekatan. Nyatanya bukan meja itu yang menjadi pemisah antara kita, tapi kebisuan masing-masing diri kita yang menjadikan kita semakin berjarak. Purnama terlalu letih mengamati malam-malam tanpa bintang. Akupun sama, atau mungkin kamupun sama. Menyusuri hari demi hari tanpa adanya keindahan yang diharapkan. Problema yan...